Maret 21, 2025

JIKA SUDAH TERBIASA DENGAN YANG 5, TAMBAH 2 BISA MEUREUN?

Pernahkah kamu bertanya kenapa sih harus menunaikan shalat yang 5 waktu? Bukan karena perkara kewajibannya saja, Tetapi karena ketundukkannya. Rukun islam yang jika kita tinggalkan, sama saja kehilangan identitas kita sebagai seorang muslim. Dan cuma shalat yang tidak boleh terdistraksi dengan kegiatan yang lain. Yang apabila terjadi, semisal ada gangguan di luar gerakan shalat. Maka statusnya akan batal. Kita bisa berpuasa sembari bekerja, dan itu tidak membatalkan puasanya. Kita bisa membayar zakat sambil berbincang-bincang dan zakatnya tetap sah sesuai dengan takarannya.

Demikian juga dengan ibadah haji, bisa sembari dengan kegiatan lain semisal berziarah, bertadabur menapaktilasi tempat-tempat bersejarah. Dan sebagainya. Shalat yang 5 waktu juga merupakan kebutuhan spritual. Bentuk komunikasi sebagai seorang hamba kepada Sang pencipta. Seperti kendali untuk mawas diri kalau di dunia hanya sementara. Sebagai pemicu agar hidayah itu tetap datang kapanpun dan bagaimana pun keadaan kita. Bukankah di setiap shalat kita memohon untuk 'tunjukilah jalan yang lurus'. Jalan yang diridhoi.

Bagaimana coba rasanya seharian tidak melakukan shalat (kecuali wanita yang haid/nifas) maka kendali itu akan hilang. Arah petunjuk jalan yang lurus akan hilang. Jika terus menjadi terbiasa berhari-hari, duh sulit rasanya untuk dibayangkan. Maka bersyukurlah yang masih diberi nikmat untuk menunaikan shalat.

Dan jika sudah terbiasa dengan yang 5 waktu, maka mulailah tambahkan 2. Yakni, Duha dan Tahajjud. Moment yang pas selama Ramadhan untuk membiasakan konsisten menunaikannya. 2-8 rakaat tahajjud sebelum santap sahur. Dan 2-8 rakaat bisa sebelum beraktivitas di rumah. Insya Allah.kenapa sih harus 2 shalat sunnah di atas? setidaknya ini yang bisa menjadi alasannya:


1. Dhuha

Kebutuhan manusia itu banyak, tidak bisa 100% kita bisa berusaha untuk memenuhinya. Rasanya itu cukup jadi alasan buat kita mengerjakan shalat Dhuha. Catat di hatimu, Dhuha lah caramu meringankan kebutuhanmu yang tidak bisa kamu penuhi secara sempurna. Dhuha penyeimbang usaha-usaha yang sedang kamu lakukan. Berharaplah diberi kemudahan, selalu diberi jalan terang. Cukup itu dulu yang jadi alasannya, pelan-pelan ketika sudah rutin mengerjakannya, yakin deh kita akan menemukan alasan lain. Sehingga ketika tidak melakukannya seperti ada yang kurang.


2. Tahajjud

Ternyata kita memang membutuhkan shalat malam itu, membutuhkan tempat untuk berkeluh kesah setelah seharian disibukkan dengan rutinitas yang monoton. Membutuhkan waktu sendiri dalam sepi untuk perenungan, muhasabah diri.Berpasrah dengan sungguh-sungguh dengan mengaduh ke tempat yang tidak akan mungkin menjudge diri kita dengan berlebihan. Yang tidak akan menyalahkan kita dengan sebegitunya. Semua hajat yang didamba diutarakan. Hajat kita yang segitu banyaknya, yang rasanya mustahil kalau tidak melibatkan Allah dalam prosesnya. Akan sulit jika hanya terpaku dengan kemampuan kita sendiri tanpa kun fayakun dari-Nya.


Dan satu hal lagi yang  sangat penting, niatkan hati untuk menyenangkan hati Rasulullah pada tiap-tiap shalatmu. Karena wasilah perjuangan Rasulullah pada Isra Mi'raj shalat diwajibkan hanya menjadi 5 waktu saja. Menyenangkan hati Rasulullah ketika tahu ummatnya banyak yang menunaikan shalat dengan kelapangan hati. Dengan sungguh-sungguh. 


@azurazie_


Maret 20, 2025

SEBAIKNYA TAHAN DULU YA, BUNG! TAHAAAAAN...........

Puasa itu artinya menahan. Menahan dari yang membatalkan puasa. Tidak makan, tidak minum dari waktu imsak sampai datangnya maghrib dan menahan diri dari yang membatalkan lainnya. Biasanya untuk yang point ini lebih berat dilakukan oleh anak-anak kecil yang sedang belajar berpuasa. Sedikit-sedikit nanya sudah jam berapa? Nanya kapan adzan maghrib tiba. Kalau untuk kita yang sudah difase remaja sampai dewasa. Untuk point ini, rasanya bisa aman-aman saja.Terlebih kalau ada kegiatan yang menyita banyak pikiran dan perhatian. Puasa tidak akan kerasa, tahu-tahu sudah bedug aja.

Tetapi selain itu ada juga perilaku kita yang justru berpotensi membatalkan pahala puasanya. Secara hukum fiqih puasanya sah, tetapi bisa merusak pahalanya. Nah, untuk point ini justru kita yang lebih cenderung untuk susah menahannya. Apa saja kira-kira hal yang sebaik mungkin kita harus bisa tahan selama berpuasa?


1. Menahan diri untuk tidak berbohong (meskipun niatnya untuk bercanda)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad saw bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

Artinya, "Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak

peduli dia telah meninggalkan makanan dan minumannya.”

2. Menahan diri untuk tidak marah-marah dan berprasangka buruk kepada orang lain.

3. Menahan diri untuk tidak berkata kasar dan mengumpat.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الصِّيَامُ مِنْ الْأَكْلِ وَالشُّرْبِ فَقَطْ، الصِّييَامُ مِنْ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ

Artinya: "Rasulullah SAW bersabda, puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum saja, puasa adalah menahan diri dari perkataan sia-sia dan keji." (HR Baihaqi dan Al-Hakim).

4. Menahan diri untuk tidak membicarakan keburukan orang lain.

5. Menahan diri untuk tidak bersumpah palsu dan mengadu domba.

6. Menahan diri untuk tetap menjaga pandangan dan hawa nafsu.

Semoga perjalanan puasa kita yang sudah mau satu pekan ini semakin lebih baik dari hari ke hari untuk kualitasnya. Dengan lebih bijak untuk menahan diri dari yang membatalkan puasa dan dari hal-hal yang berpotensi membatalkan pahala puasanya juga.

@azurazie_


Maret 19, 2025

COBA RASAKAN DENGAN HATI, SUDAH BERADA DI LEVEL MANAKAH PUASA KITA?

Masya Allah, tabarakallah. Alhamdulillah ya kita masih diberi kemampuan dan kemauan untuk menunaikan ibadah puasa sampai hari ini. Dengan sungguh-sungguh dan penuh rasa syukur. Itu artinya, kita masih diperhatikan oleh Allah SWT dengan hidayahnya.mTetapi tahukah kamu kalau puasa itu ada level-levelnya loh. Nah, kira-kira puasa kita sudah berada di level yang mana nih?


1. Berpuasa Dengan Fisik

Level Puasa pertama adalah Puasa dengan fisik. seperti puasa pada umumnya. Hanya menjaga diri dari yang membatalkan puasa dari imsak sampai dengan waktu berbuka. Meninggalkan makanan dan minuman. Tidak berhubungan badan bagi suami istri di siang hari.

Pada level ini dikarenakan hanya fisiknya saja yang berpuasa. Maka, rentan sekali untuk tidak meninggalkan perkara-perkara yang lain. Seperti :

· Karena sedang puasa jadi malas-malasan. Semisal hanya tidur-tiduran atau bahkan banyak tidur beneran. Hanya agar puasanya jadi tidak terasa.

· Karena sedang puasa jadi sedikit-sedikit mengeluh haus, sedikit-sedikit mengeluh panas, mengeluh lapar, mengeluh lemas.

 

2. Berpuasa Dengan Pikiran & emosi

Level puasa kedua adalah berpuasa dengan pikiran & emosi. Maksudnya gimana? selain fisiknya yang sedang berpuasa, kita juga sebisa mungkin menahan diri dari hal-hal yang berpotensi membatalkan pahala puasanya. Seperti menahan amarah, tidak mengumpat, tidak bergunjing, tidak berbohong dsb.

Selain fisik kita yang berpuasa, anggota tubuh yang lain pun kita puasakan dari hal-hal yang kurang manfaat. Seperti menjaga pandangan mata. Lebih selektif ketika scrool social media. Menjaga mulut dan jemari untuk tidak mudah terpancing untuk membicarakan aib orang lain. Baik langsung maupun di grup wa.


3. Berpuasa Dengan Hati

Level puasa ketiga adalah Berpuasa Dengan Hati. Ini tingkatan yang paling tinggi dalam berpuasa. Selain kita berpuasa dengan fisik, berpuasa dengan pikiran dan emosi. Kita juga berpuasa dengan hati. Maksudnya gimana?

Kita berpuasa seperti memiliki tujuan yang pasti. Berpuasa ingin meningkatkan ibadah-ibadah kita. Ingin memperbaiki kualitas shalatnya. Berpuasa ingin lebih dekat lagi dengan Allah. Berpuasa memiliki target-target tertentu, semisal sampai hari keberapa berpuasa sudah bisa khatam Al-Qur’an berapa kali. Target full tarawih, tahajjud, duha, sedekah dll. Berpuasa, tetapi menambah nilai-nilai lain, seperti menambah hapalan, murojaah, mambaca banyak siroh nabi dll.

Berpuasa dengan hati, berharap puasa kita tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban. Tidak sekadar menahan lapar dan dahaga. Tetapi ada nilai kebaikan dan perbaikan untuk hidup kita sendiri. Ibadah menjadi lebih ontime, lebih khusuk. Lebih bijaksana menempatkan mana urusan dunia, mana urusan akhirat yang lebih diutamakan.

Nah, mari kita rasakan dengan hati kita masing-masing. Sudah di level berapakah puasa kita pada tahun ini? semoga dengan begitu kita selalu mengarah menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.

Dan Allah senantisa memudahkan ibadah puasa kita sampai akhir. Aamiin...


@azurazie_

Maret 18, 2025

SEKIRANYA KITA TAHU DOA APA YANG SEDANG INGIN ALLAH DENGAR, MAU BILANG APA?

Salah satu keutamaan bulan Ramadhan adalah, bulan ini Allah mudahkan kita untuk banyak berdoa dan memohon ampunan. Kenapa begitu? biasanya kan kita ‘ngeh untuk berdoa ketika kita sedang dalam keadaan taat. Sehabis shalat misalnya.Baru kita menengadahkan tangan seraya berdoa. Kalau lagi nyantai atau sibuk kerja mah boro-boro kita ingat untuk berdoa. Sekadar bertasbih-berzikir aja kita luput. Betul tidak?

Nah, bulan Ramadhan ini spesial, Allah mudahkan untuk kita banyak berdoa. Karena level taat kita sedang meningkat. Level sadar kita sedang bertambah dibanding waktu lalainya. Pas berbuka kita dianjurkan perbanyak doa sebelum langsung memakan takjil. Di Waktu sahur juga baiknya banyakin doa karena termasuk waktu sepertiga malam. Bahkan sepanjang waktu kita sedang berpuasa, adalah termasuk waktu yang mustajab untuk berdoa.

Bulan Ramadhan juga, bulan yang lebih banyak untuk kita mendirikan shalat. Karena ada sunnah qiyamul lain di dalamnya: tarawih-witir-tahajud. Maka, sudah pasti potensi untuk ingat berdoanya lebih banyak dibanding bulan-bulan lain. Karena itu, sayang sekali rasanya kalau di bulan ini kita sekenanya saja dalam berdoa.

Alhamdulillahnya lagi bagi ummat muslim. Berdoa pun tidak hanya untuk nafsi-nafsi. Berdoa bukan sekadar untuk kepentingan sendiri saja. Bukan untuk memenuhi hajat-hajatnya masing-masing saja.

Ummat muslim selalu berdoa dalam berjamaah. Selalu ingat dengan saudara-saudaranya. Biasanya kan sang imam ketika memimpin doa selalu ingat untuk menyebut : muslimin-muslimat, mukminin-mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Masya Allah, makanya muslim yang satu dengan yang lain diibaratkan satu tubuh. Meski padahal tidak saling kenal secara personal.

Dan rahasianya mendoakan orang lain secara diam-diam adalah salah satu cara agar doa itu lebih mudah untuk dikabulkan. Ditambah banyak bocoran waktu-waktu tertentu yang berpotensi lebih cepat doa itu untuk didengar. Seperti ketika lapang, waktu hujan, di 1/3 malam dan pada hari jum’at.

Semoga Allah senantiasa memudahkan lidah kita untuk berdoa.

Dan sekiranya kita tahu Allah sedang ingin mendengar doa kita yang mana, kamu mau bilang apa?


@azurazie_

Maret 17, 2025

WADUH, KOK UDAH MELEHOY AJA NIH, BOSS?

Apakabar Ramadhanmu tahun ini? Masih sungguh-sungguh mengisi tiap waktunya dengan hal-hal yang baik? Sehingga bisa mendulang berkahnya. Jangan-jangan sudah mulai melehoy nih, terlihat dari barisan shalat tarawih yang semakin maju. Dari bangun sahur yang sudah beberapa kali kesiangan. Dari shalat berjamaah yang sudah masbuk atau bahkan memilih di rumah.

Duh, jangan ya. Kencangkan kembali ikat pinggang itu. Belum tentu tahun depan masih ada kesempatan untuk bertemu lagi dengan Ramadhan. Ingat-ingat kembali perasaan gembira, perasaan rindu beberapa bulan lalu yang menunggu datangnya Ramadhan. Masa gembiranya hanya diujung lidah saja? Masa rindunya pudar begitu saja? Gombal dong!

Setidaknya ada 3 hal yang bisa membuat semangat di Ramadhan ini:

1. Ramadhan adalah bulan Kebaikan

Tidak tanggung-tanggung satu kebaikan bisa menjadi berlipat ganda dibanding bulan-bulan lain. Makanya, banyak orang yang berlomba-lomba menyiapkan takjil gratis. Bahkan bagi yang sebenarnya tidak mampu juga, di hati mereka ada keinginan untuk berbagi di bulan Ramadhan ini. Kebaikan banyak caranya, tidak melulu harus berbagi materi. Bisa tenaga, pikiran dll. Contoh kebaikan lain yang untuk diri sendiri semisal bertadarus Al-Qur'an. Sederhananya Alim lam mim pun dihitung tiga kebaikan. Maka, bertekadlah mengkhatamkannya meski hanya 1x khataman. Yuk bisa yuk!

2. Ramadhan adalah bulan Perbaikan

Sudah tentu bulan ini Vibesnya beda dari bulan-bulan lain. Karena rasanya beribadah tidak lagi sendiri-sendiri saja. Semua orang berlomba untuk ikut-ikutan taat. Sesederhana ikut meramaikan masjid saat berbuka.
Maka, mumpung vibesnya inginnya taat saja, mulailah melakukan perbaikan dari segi ibadahnya. Dari segi disiplinnya. Dari segi sami'na waato'nya. Denger adzan buru-buru ke masjid. Habis shalat jangan lantas pulang, ikut imam bertasbih dulu. Perbanyak shalat-shalat sunnah baik malam maupun siang. Perbanyak Istighfar & doa.

Dan bentuk perbaikan-perbaikan lain. Dengan harapan ibadah yang kita lakukan menjadi lebih berkualitas. Bertambah pula kuantitasnya.

Perbaikan juga tidak hanya yang hablumminallah, bisa juga ke hablumminanasnya. Perbaiki hubungan dengan sesama manusia, dengan saudara. Perbanyak silaturrahim.

3. Ramadhan adalah bulan kebalikan

Masih sejalan dengan point ke-2, Ramadhan bisa menjadi momentum perubahan untuk diri kita menjadi lebih baik lagi. Kebalikan dari yang buruk menjadi lebih baik.

Kebalikan dari indisiplin menjadi disiplin. Dari konsisten menjadi lebih persisten.

Semisal, tadinya bolong-bolong subuhan di masjid, selama Ramadhan satu bulan penuh ke masjid, setelah lebaran jadi terbiasa. Yang tadinya untuk bangun malam itu sulit sekali, karena terbiasa sahur satu bulan jadi lebih mudah.

Dan untuk membiasakan itu semua, makanya dari hari ini jangan sampai melehoy duluan

Maka, semangat untuk berburu kebaikan, melaku1. Ramadhan adalah bulan Kebaikan

Tidak tanggung-tanggung satu kebaikan bisa menjadi berlipat ganda dibanding bulan-bulan lain. Makanya, banyak orang yang berlomba-lomba menyiapkan takjil gratis. Bahkan bagi yang sebenarnya tidak mampu juga, di hati mereka ada keinginan untuk berbagi di bulan Ramadhan ini. Kebaikan banyak caranya, tidak melulu harus berbagi materi. Bisa tenaga, pikiran dll. Contoh kebaikan lain yang untuk diri sendiri semisal bertadarus Al-Qur'an. Sederhananya Alim lam mim pun dihitung tiga kebaikan. Maka, bertekadlah mengkhatamkannya meski hanya 1x khataman. Yuk bisa yuk!

2. Ramadhan adalah bulan Perbaikan

Sudah tentu bulan ini Vibesnya beda dari bulan-bulan lain. Karena rasanya beribadah tidak lagi sendiri-sendiri saja. Semua orang berlomba untuk ikut-ikutan taat. Sesederhana ikut meramaikan masjid saat berbuka.
Maka, mumpung vibesnya inginnya taat saja, mulailah melakukan perbaikan dari segi ibadahnya. Dari segi disiplinnya. Dari segi sami'na waato'nya. Denger adzan buru-buru ke masjid. Habis shalat jangan lantas pulang, ikut imam bertasbih dulu. Perbanyak shalat-shalat sunnah baik malam maupun siang. Perbanyak Istighfar & doa.

Dan bentuk perbaikan-perbaikan lain. Dengan harapan ibadah yang kita lakukan menjadi lebih berkualitas. Bertambah pula kuantitasnya.

Perbaikan juga tidak hanya yang hablumminallah, bisa juga ke hablumminanasnya. Perbaiki hubungan dengan sesama manusia, dengan saudara. Perbanyak silaturrahim.

3. Ramadhan adalah bulan kebalikan

Masih sejalan dengan point ke-2, Ramadhan bisa menjadi momentum perubahan untuk diri kita menjadi lebih baik lagi. Kebalikan dari yang buruk menjadi lebih baik.

Kebalikan dari indisiplin menjadi disiplin. Dari konsisten menjadi lebih persisten.

Semisal, tadinya bolong-bolong subuhan di masjid, selama Ramadhan satu bulan penuh ke masjid, setelah lebaran jadi terbiasa. Yang tadinya untuk bangun malam itu sulit sekali, karena terbiasa sahur satu bulan jadi lebih mudah.

Dan untuk membiasakan itu semua, makanya dari hari ini jangan sampai melehoy duluan

Maka, semangat untuk berburu kebaikan, melakukan perbaikan, dan mengubah kebalikan menjadi lebih baik dari hari ke hari. Dari hari ini, sampai akhir Ramadhan. Dan semoga terus kebiasan baru itu bisa dibawa di 11 bulan yang lain. Amiin.

keep hamassah!


@azurazie_

Maret 16, 2025

TANYA DONG, KENAPA SIH DIRIMU MASIH MAU BERPUASA?ANYA DONG, KENAPA SIH DIRIMU MASIH MAU BERPUASA?

Ibadah puasa ini adalah ibadah pilihan. Kenapa begitu? Karena kendalinya ada pada diri kita sendiri. Kita sendiri yang berwenang untuk memutuskan mau berpuasa atau tidak. Tentu selain kendala yang sesuai udzur syar'i (Wanita Haid/Nifas, sakit, mendadak gila, murtad dll)

Saking menjadi ibadah pilihan, maka dikatakan untuk urusan pahalanya pun hanya Allah yang mengetahui seberapa banyak ganjarannya.

Bisa jadi seseorang mengaku berpuasa kepada sesama manusia, tetapi diam-diam ia memilih untuk makan. Atau bahkan banyak juga yang terang-terangan memberi tahu semua orang bahwa dirinya sedang tidak berpuasa.

Lalu, kira-kira alasan apa yang mendasari dirimu memilih untuk tetap berpuasa?

1. Berpuasa Karena Bersyukur

Alhamdulilah 'ala kulli hal, salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada kita adalah, nikmatnya iman. Maka iman itu juga yang berazam untuk diri kita agar sepenuh hati berpuasa. Tidak sekadar menunaikan kewajibannya. Tetapi bersyukur kepada Allah bahwa ternyata kita masih butuh untuk berpuasa. Saking banyaknya dosa.Berpuasa di bulan Ramadhan bisa menjadi ikhtiar terbaik kita untuk memohon untuk diampuni untuk setiap kekhilafan di sebelas bulan yang lain.

2. Berpuasa karena masih diberi kesehatan

Berapa banyak orang yang sebenarnya hatinya ingin sekali berpuasa sebulan penuh. Tetapi kesehatannya tidak mendukung untuk melakukannya. Bergantung dengan obat yang harus dikonsumsi beberapa jam sekali. Atau jika mereka memaksakan diri untuk berpuasa maka akan anfal. Dan disarankan oleh dokter untuk tidak berpuasa. Bahkan mungkin saja ada yang sampai berdoa : seandainya diberi kesempatan sebulan saja bertukar posisi dengan orang yang sehat secara jasmaninya, tetapi memilih untuk tidak berpuasa. Cukup sebulan saja, agar tidak ketinggalan keberkahan bulan Ramadhan. Sebulan saja, karena mereka ridho dengan ujian kesehatan yang allah berikan di bulan yang lain. Berapa banyak juga yang usianya tidak sampai memasuki bulan Ramadhan.

3. Berpuasa karena masih diberi kecukupan

Alhamdulillah Allah sejauh ini masih memberikan kita kecukupan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Termasuk untuk hidangan santap sahur dan berbuka. Rasanya tidak ada alasan untuk memilih tidak berpuasa karenanya.


4. Berpuasa Karena Masih Diberi Rasa Aman

Alhamdulillah juga, kita berada di negeri yang aman untuk beribadah. Bukan negara konflik. Yang beribadah meski harus sembunyi-sembunyi. Yang beribadah dibarengi dengan rasa takut sewaktu-waktu jiwanya bisa terancam.

Maka, temukan alasan terbaikmu yang membuat dirimu tetap memilih untuk berpuasa di bulan Ramadhan ini. Agar ibadah-ibadah yang kita lakukan untuk mengisinya jadi lebih bergairah, bertenaga, bersemangat. Lebih nikmat untuk dilalui. Tidak sampai kehabisan moment dan tidak melakukan apa-apa. Ramadhannya berlalu biasa-biasa saja.


@azurazie_


Maret 15, 2025

GUYS, ADA PAHALA DI DEPAN MATA, KOK DIANGGURIN SIH?

Di masjid atau mushola di sekitar kalian masih melihat tidak anak-anak kecil yang mengantri untuk meminta tanda tangan imam masjid sehabis bubaran tarawih? Karena tugas dari sekolah mereka.

Ada ya. Dan kita pernah punya pengalaman yang sama juga dulu, ya.

Hmm..Sebenarnya kita juga begitu tahu sampai sudah seusia ini. Kita masing-masing punya 'tugas' untuk 'setoran' buku catatan itu juga. Meski tidak secara harfiah.

Bagi kita buku tugas itu adalah 'niat'. Dan yang mencatatkan setorannya adalah 'malaikat Raqib'. Karena kan ibadah yang kita lakukan tanpa diawali dengan niat, maka catatan amal itu akan berakhir kosong. Alias tidak ada nilai pahalanya.

Lalu, apa saja nih pahala-pahala yang sebenarnya ada di depan mata, tetapi sering kali malahan kita anggurin?


1. 'Itikaf di Masjid

Mumpung bulan puasa, yang cenderung kita menjadi lebih banyak waktu untuk berada di dalam masjid dibanding bulan yang lain. Karena ada shalat Tarawih berjamaah. Pastikan setelah kaki kanan melangkah dan membaca doa masuk masjid. Niat juga untuk ber'itikaf di dalamnya. Sayangkan kalau sampai dilewatkan begitu saja.


 2. Sedekah Subuh

 Uniknya bulan puasa, masjid-masjid akan lebih banyak pengunjungnya di kala subuh, dibanding waktu

maghrib. Betul tidak? Nah, jangan lupa kantongin uang untuk bersedekah sehabis subuh. Tidak perlu banyak, tetapi rutin. Insya allah banyak sekali keutamaannya.


3. Shalat Sunnah Ba'diah Isya

Sering kali melihat jamaah shalat tarawih yang memilih duduk saja, setelah shalat isya. Mungkin bermaksud istirahat dulu sebelum tarawih yang bilangan rakaatnya lebih banyak. Padahal seandainya mereka tahu, kedudukan derajat 2 rakaat sunnah setelah isya lebih tinggi dari shalat tarawih itu sendiri.Karena termasuk shalat sunnah rawatib.Yang berpotensi menyempurnakan shalat yang wajib.

 

4. Bershalawat

Ringankan lidah kita untuk selalu bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Kapan pun dan di manapun sedang berada. Dengan diam-diam atau secara terang-terangan. karena cuma shalawat, amalan yang meski kita pamerkan sekalipun kepada manusia. Tetapi tidak akan dicatat sebagai perbuatan riya. Ya karena kita melakukannya atas dasar cinta.

Dan banyak lagi amalan-amalan sederhana lain, yang potensi pahalanya ada di depan mata. Tetapi sering kali kita anggurin. Padahal derajat pahalanya sedang dilipatgandakan di bulan mulia ini. Yuuk, kita mulai berburu kebaikannya dengan mendulang berkah sebanyak-banyaknya.


@azurazie_


Maret 14, 2025

SEDIH NIAN RASANYOO, TERNYATA KITA SUDAH TIDAK SEDEKAT ITU

Aku heran, Ramadhan sudah mau masuk 4 hari, tetapi aku masih belum juga disentuhnya. Masih terasing di pojok rak buku yang juga sudah reot dan usang. Dari hari ke hari keadaanku makin memprihatinkan, berdebu makin tebal, halaman semakin banyak yang menguning dan kusam. Jangan tanya sampul cover depannya, sudah lama copot dan entah kemana. Besok-besok sampul belakang pun ikutan koyak. Tali pembatas halamanku saja sudah tinggal setengahnya dengan benang-benang yang sebagian sudah terurai.

Entah kenapa doi makin kesini makin tidak memedulikanku. Apa karena sudah ada yang baru? Rasa-rasanya tidak, sejak awal Ramadhan ia lebih sibuk mencari sarimbit modelan terbaru. Padahal masih jauh dari lebaran. Dengan alasan biar tidak kehabisan stok. Mana ada kepikiran untuk sekadar meremajakan ku. Meski itu untuk ukuran setahun sekali. Entah memang doi type setia sampai akhir, atau memang tidak sepeduli itu dengan keberadaanku? Ada atau tidak ada tidak ada pengaruhnya.

Padahal dulu aku juaranya. Setiap petang dibawa-bawa dengan rasa hormat ke surau tempat doi mengaji bersama teman-temannya. Tidak ketinggalan tuding yang terbuat dari batang daun bambu yang sudah kering. 'Kalam' itu sebutannya untuk membantu dalam mengeja alif ba ta hingga ya. Belajar mengaji sampai waktunya maghrib tiba.

Ya, aku adalah mushaf pertamanya yang dibelikan oleh sang ibu, berbarengan dengan nasi kuning sebagai syukuran karena sudah mulai bisa membaca Al-Qur'an.

Dulu aku juaranya, setiap Ramadhan datang, aku dihatamkan 2-3 kali dari awal puasa sampai bertemu lebaran. Saking semangatnya doi bertadarus bersama teman-temannya sehabis tarawih.

Itu dulu, rasanya semakin ke sini chemistry di antara kami sudah tidak sedekat itu. Hik... Hik... Sedih nian rasanya ambo..

---------------

Begitulah kira-kira bila kita bisa mendengar curhatan mushaf Al-Qur'an yang masih kamu cuekin sampai hari ini. Padahal Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur'an. Yang apabila pada bulan Ramadhan saja kita masih tidak ada keinginan untuk intens membacanya. Apakabar di bulan-bulan lain? 

Padahal Al-Qur'an adalah sebaik-baiknya obat penenang dikala merasa sedih, banyak keluhan tentang hidup, rumitnya pikiran. Coba saja buka sembarang surat, akan kita temukan satu atau dua ayat yang menjadi pelipur lara di kala itu. Ayat-ayat yang pas untuk menghibur keadaan. Minimal pengingat yang baik yang sedang kita butuhkan.

Dan apabila belum berhasil menemukan obat penenang itu, boleh jadi karena kita yang masih kurang intens bermesraan dengannya. Tidak heran bila membaca Al-Qur'an tidak membuat kita merasa apa-apa.

Hmm...

Yuk, ambil kembali mushafmu. Bacalah, dan temukan kembali kemesraan itu.


@Azurazie_


Maret 13, 2025

JANGAN JADI SOIMIN YANG NORAK YA, DEK!

Kita sama tahu, kewajiban puasa itu bagi muslim yang beriman, yang tidak sedang dalam udzur syar'i. (Baligh, berakal, wanita yang tidak sedang haid/nifas, tidak sedang menjadi musafir, tidak dalam keadaan sakit).

Maka, peranan iman ini besar sekali. Karena ada saja yang sebenarnya mampu, tetapi tidak mau. Berakal dan tidak gila, tetapi tidak berpuasa.Kita sama tahu, kewajiban puasa itu bagi muslim yang beriman, yang tidak sedang dalam udzur syar'i. (Baligh, berakal, wanita yang tidak sedang haid/nifas, tidak sedang menjadi musafir, tidak dalam keadaan sakit).

Maka, peranan iman ini besar sekali. Karena ada saja yang sebenarnya mampu, tetapi tidak mau. Berakal dan tidak gila, tetapi tidak berpuasa.

Terus, bagi yang sudah sadar untuk berpuasa, jangan jadi norak juga ya.

Gimana tuh maksudnya?

Mereka yang sudah dewasa dan berpengalaman berpuasa pada tiap tahunnya, tetapi seolah hanya untuk ikut-ikutan momentnya saja. Tidak berupaya untuk berpuasa dengan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Terus kok dibilang norak?

Hmm...karena perbuatannya tidak mencerminkan orang yang berpuasa dengan sungguh-sungguh.

Contoh :

- mereka yang berpuasa, tetapi kerjaannya ngitungin sisa harinya mulu. Sibuk mikirin kapan lebaran. Seolah tidak menikmati proses ibadah puasanya itu sendiri dari imsak sampai berbuka.

- Mereka yang berpuasa, tetapi baik secara sadar atau tidak sadar sudah tidak menghormati bulan puasanya itu sendiri. Share list warteg yang buka selama Ramadhan. Untuk sekadar lucu-lucuan.

- Mereka yang suka Share video mukbang makanan dan minuman di siang bolong. Dengan maksud membuat orang yang lihat kepingin. Untuk dinikmati sendiri pun sudah cenderung makruh ketika melihat video orang sedang makan. Apalagi kalau niatnya untuk menggoda orang lain. Tentu tidak ada manfaatnya.


Tidakkah kasihan untuk anak-anak 5 Tahun yang sedang semangatnya belajar berpuasa, padahal mereka belum ada kewajiban. Sedangkan yang sudah berpengalaman berpuasa karena sudah tuntutan usia, justru berpuasa dengan cara tidak dewasa? Norak kan istilah pasnya? Hehe..

Maka, mari sama-sama kita sukseskan moment Ramadhan tahun ini, untuk berpuasa dengan sepenuh iman (penuh sadar memang sudah seharusnya). Berpuasa dengan cara yang aman (mengetahui tentang syarat wajib sah dan yang membatalkannya). Agar catatan raport Ramadhan Tahun ini benar-benar sampai status Aamiin

Dalam artian, dikabulkan segala doa-doa dan pengharapannya.Diampuni segala dosa-dosanya. Agar puasa kita tidak hanya rutinitas harian selama satu bulan kedepan, yang hanya sekadar menahan lapar dan dahaga saja. Puasa yang sia-sia. Tetapi benar-benar ada penambahan point untuk nilai ketakwaan. Aamiin..

@Azurazie_

Februari 22, 2025

KEPADA SANG MAHA SEGALA

Kepada Allah yang Maha Segala, kupertaruhkan segala pinta dalam doa. Kepada Allah yang Maha Punya, kugadaikan segala perlu dalam ikhtiar semampuku.

                Semoga kami ikut dalam bagian orang-orang yang hanya menaruh harap kepada-Mu. Tersebab memang butuh mengaduh. Tersebab terasa kembali utuh, setelah mencurahkan segala gundah.

                Semoga kami ikut dalam bagian orang-orang yang pada pundaknya selalu ada usaha. Yang ingin mengubah takdir, agar datang dalam versi terbaiknya.

                Sebab kami sepenuh yakin akan janji-Mu yang mengabulkan pada setiap doa. Sebab kami sepenuh taat atas firman-Mu, bahwa nasib suatu kaum ditentukan oleh masing-masing usahanya. Maka, kabulkanlah segala doa yang menurut pandangan-Mu adalah yang terbaik untuk kami.

                Maka, takdirkanlah, nasib baik itu setelah apa yang telah diusahakan oleh kami.

                Pada ujung kalimat Bismillah, aku berserah dengan sepenuh patuh. Kepada Allah Sang Maha Kasih, aku terserah secara utuh dan Maha Penyayang dengan menyeluruh, aku menyerah-kan segala butuh.

                Ikhtiarku dalam usaha. Sepenuh yakin, akan dijasa untuk tiap-tiap upayanya.

                Ikhtiarku dengan doa. Sepenuh yakin, akan diijabah untuk tiap-tiap butuh.

                Kepada-Mu yang Maha Segala. Kugadaikan segala pinta. Pada pijakan langkah kakiku yang pertama. Menelusuri remah-remah kebaikan yang telah tersedia. Untuk tiap-tiap makhluk-makhluk-Mu yang berupaya dan berdoa.

                Kepada-Mu bermuara segala butuh. Dengan cinta yang akan selalu utuh. Dan kebaikan yang terus bertumbuh. Dengan keberkahan hidup yang semoga terus bertambah. Segalanya terasa menyeluruh.Kepada Allah yang Maha Segala, kupertaruhkan segala pinta dalam doa. Kepada Allah yang Maha Punya, kugadaikan segala perlu dalam ikhtiar semampuku.

                Semoga kami ikut dalam bagian orang-orang yang hanya menaruh harap kepada-Mu. Tersebab memang butuh mengaduh. Tersebab terasa kembali utuh, setelah mencurahkan segala gundah.

                Semoga kami ikut dalam bagian orang-orang yang pada pundaknya selalu ada usaha. Yang ingin mengubah takdir, agar datang dalam versi terbaiknya.

                Sebab kami sepenuh yakin akan janji-Mu yang mengabulkan pada setiap doa. Sebab kami sepenuh taat atas firman-Mu, bahwa nasib suatu kaum ditentukan oleh masing-masing usahanya. Maka, kabulkanlah segala doa yang menurut pandangan-Mu adalah yang terbaik untuk kami.

                Maka, takdirkanlah, nasib baik itu setelah apa yang telah diusahakan oleh kami.

                Pada ujung kalimat Bismillah, aku berserah dengan sepenuh patuh. Kepada Allah Sang Maha Kasih, aku terserah secara utuh dan Maha Penyayang dengan menyeluruh, aku menyerah-kan segala butuh.

                Ikhtiarku dalam usaha. Sepenuh yakin, akan dijasa untuk tiap-tiap upayanya.

                Ikhtiarku dengan doa. Sepenuh yakin, akan diijabah untuk tiap-tiap butuh.

                Kepada-Mu yang Maha Segala. Kugadaikan segala pinta. Pada pijakan langkah kakiku yang pertama. Menelusuri remah-remah kebaikan yang telah tersedia. Untuk tiap-tiap makhluk-makhluk-Mu yang berupaya dan berdoa.

                Kepada-Mu bermuara segala butuh. Dengan cinta yang akan selalu utuh. Dan kebaikan yang terus bertumbuh. Dengan keberkahan hidup yang semoga terus bertambah. Segalanya terasa menyeluruh.

@azurazie_

Februari 05, 2025

IDEAL

Sudah pasti, kita selalu ingin segala sesuatunya ideal sesuai dengan yang diharapkan. Part to part berjalan sesuai dengan list-list yang kita sudah rencanakan, agar keinginan itu terwujud paripurna. Agar harapan itu berbanding lurus dengan kebaikan yang kita bayangkan.

                Akan tetapi, sayang sekali, selalu ada faktor lain yang di luar kendali kita. Human eror. Atau sering berbenturan dengan ego dan hak-hak orang lain. Atau tiba-tiba ada interupsi dari pihak ketiga yang tidak tahu menahu, tentang apa saja langkah yang sudah kita upayakan. Hal apa saja yang sudah kita bentuk dengan sedemikian rupa.

                Yang apabila hal itu sedang terjadi, sering membuat kita nelangsa. Runyam. Buyar sudah. Seolah tenaga, pikiran, waktu terbuang begitu saja. Tidak kelihatan hasil baiknya.

                Oooh... Kenapa mereka tidak bisa mengikuti sesuai dengan idealnya kita? Kenapa dengan suka hati mendistraksi apa-apa yang susah payah telah kita bangun? Kenapa tidak sepenuhnya membiarkan segala sesuatunya berjalan apa adanya, step by step sesuai dengan keinginan kita. Kenapa harus ikut campur? Kenapa suka usil ikut mengatur?

                Sedangkan bila terjadi sesuatu yang di luar kendali, kita juga yang pada akhirnya tertuduh duluan. Dan kita pula yang merasa paling bersalah. Karena tidak kuasa mempertahankan.  Maka, benar adanya. Satu-satunya yang menghibur hati ini bahwa: Yang dilihat Allah adalah proses, bukan hasilnya.

                Biarpun ekspektasi kita tidak selalu tercapai, tapi Allah tahu langkah apa yang sudah kita coba. Soal hasil akhir biarkan bekerja sesuai dengan ganjarannya. Tugas kita sebatas usaha.  Terus berusaha, sampai tidak terasa, tak ada lagi keluhan-keluhan. Tak ada lagi rasa kecewa yang di luar kemampuan kita. Karena kalau masih ada itu (keluhan dan mudah kecewa) rasa-rasanya definisi ikhlas belum juga kita dapati maknanya.


@AZURAZIE_

Januari 26, 2025

TENTANG MEMPERINGATI ISRA MI'RAJ

 Memperingati Isra' Mi'raj itu adalah mengingatkan kembali tentang keseriusan kita terhadap shalat yang 5 waktu.


Dengan fase dan tahapan yang berbeda-beda pada tiap individu orangnya. Sesuai dengan kadar iman dan pemahamannya.


Tentang keseriusannya dalam bersungguh-sungguh menunaikannya dengan tepat waktu.


Tentang keseriusannya dalam mengupayakan shalat selalu dengan berjamaah.


Tentang keseriusannya dalam mengqodo shalat yang pernah ditinggal dalam sengaja ataupun tidak, sejak baligh hingga hari ini, sebanyak yang mampu ia ingat.


Tentang keseriusannya dalam berazzam, bertekad untuk tidak pernah lagi meninggalkannya dengan sengaja dan terang-terangan. Atau bahkan menyepelekan hukum ketika meninggalkannya.


Maka, memperingati Isra' Mi'raj itu adalah tentang mengingat kembali keseriusan kita, sedang atau sudah di fase dan tahapan yang manakah kita? 


Karena, sejarah mencatat tentang bagaimana Rasulullah SAW, berupaya memperjuangkan keringanan untuk ummatnya. Untuk perkara seberapa banyak kewajiban shalat dalam sehari semalam untuk kita. Yang berakhir hanya dengan cukup 5 waktu saja.


Bukankah itu sudah cukup menjadi bukti, bahwa tentang shalat memang seharusnya seserius itu?


@azurazie_

Januari 19, 2025

ALAMAT ALTERNATIF AZURA-ZIE.COM

Sedang menimbang-nimbang untuk domain blog ini sudah harus diperpanjang atau tidak selama satu tahun ke depan. Menimbang-nimbang apa masih perlu atau tidak menggunakan alamat azura-zie.com atau dibiarkan saja, kembali ke yang tak berbayar.

Dan entah pada waktunya blog ini nantinya sudah tak bertuan, karena penulisnya sudah habis masa waktunya di dunia. Atau karena hal-hal lain yang sudah di luar kuasa untuk mengupdate tulisannya. Hanya berharap semoga apapun yang pernah ditulis di blog ini, dari lebih 10 tahun lalu. Dan siapapun yang membaca secara kebetulan ataupun memang sudah terbiasa mengikuti blog ini, semoga selalu ada manfaat untuk siapapun itu. Menjadi catatan kebaikan bagi saya sebagai penulisnya. Pun, memohon maaf apabila dari tulisan yang ada, justru membuat resah dan tak berkenan di hati pembacanya.

Akhir kata, jika domain .com sudah tidak bisa diakses suatu hari nanti. Alamat blog ini adalah azura-zie.blogspot.com sebagai alternatif alamatnya.


@azurazie_



BERSAMAMU

 2024 yang sudah kita lalui, mungkin memang begitu-begitu saja.

2025 yang akan kita hadapi pun sudah tentu maunya bersamamu saja.

Karena apa yang sudah kulalui bersamamu kemarin-kemarin, rasanya itu yang berharga. Apa yang ingin kutempuh besok, nyatanya masih itu yang menjadi sumber asa.

Seakan yang sudah dilalui, apapun itu menjadi utuh setelahnya. Yang belum tercumponi, kapanpun itu menjadi yang paling dibutuh berikutnya.


@azurazie_